Bencana gempa dan tsunami yang melada Nanggroe Aceh Darussalam pada tgl 26 Desember 2004 jam 09.00.WIB telah menghancurkan kehidupan di Aceh.saat stunami datang ribuan manusia,hewan dan tumbuh-tumbuhan ikut diterjang ombak yang sangat dahsyat.ribuan manusia meninggal,bangunan-bangunan yang megah pun ikut dihantam.sangat sedikit manusia yang selamat apa lagi harta benda.
Seiring waktu berjalan masyarakat satu persatu mulai kembali
untuk membangun kampung.tapi kebanyakan warga lebih memilih tinggal di Barak pemerinta yang disana mereka mendapatkan bantuan yang berlebihan.masyarakat kembali membersihkan bekas rumah yang telah hancur dan membangun tenda untuk tempat berlindung dari panasnya siang dan sejuknya malam serta dingin dikala diguyur hujanLembaga bantuanpun datang berbondong-bondong u memberikan bantuan makana,minuman dan juga paka
ian.terlalu banyak bantuan yang diberikan membuat masyarakat malas untuk bekerja.contoh buruk yang dilakukan beberapa pemberi bantuan adalah : warga diajak membersihkan kampungnya sendiri kemudian dibayar.wlaupun mereka hanya duduk saja dan mencabut hanya dua dan tiga rumput saja bisa mendapatkan upah.lalu apa yang terjadi dengan masyarakat sekarang ini..!budaya gotong royong yang sangat kental dalam kehidupan masyarakat Aceh pudar hanya dengan sejumlah uang.rasa menghargai satu sama lain juga sudah mulai sangat berkurang.saat bantuan logistik masih disalurkan kepada korban bantuan bantuan rumah pun datang.berbondong-bondong korban yang tinggal dibarak kembali kekampung halaman.mereka mulai kehidupan yang baru di kampung dengan rasa trauma yang masih sangat tinggi.
Pembangunan Rumah Bantuan
Pembangunan rumah korban tsunami dimulai pada bulan mai 2005.awa-awal memang tidak terjadi kecurangan di data rumah.tp tidak lama kemudian lambaga bantuan rumah pun bertaburan yang tanpa koordinasi antara sesama dalam hal membagi bantuan terutama bantuan perumahan.akhirnya banyak terjadi tumpang tindih pembangunan dan ini juga disebabkan oleh warga yang pernah puas dengan apa yang diberikan.hampir 15% korban mendapatkan rumah double.Lembaga pemerintah dalam hal ini BRR(Badan rekontruksi dan rehabilitasi)juga lalai menghitung duit.mereka selalu sibuk dengan dikantor padahal dilapangan terjadi perselisihan antara NGO yang seharusnya dibawah koordinasi BRR.pengumuman bagi korban yang mendapatkan rumah double akan diproses ke hukum juga hanya sekedar omong doank.mereka juga mengutuskan orang yang tidak jujur ke lapangan yang dengan semaunya bisa memasukkan data calon penerima bantuan hanya dengan mengharapkan uang tambahan begitu juga yang terjadi dengan beberapa orang kepala desa yang melakukan penipuan data calon penerima bantuan.
Seiring waktu berjalan masyarakat satu persatu mulai kembali
untuk membangun kampung.tapi kebanyakan warga lebih memilih tinggal di Barak pemerinta yang disana mereka mendapatkan bantuan yang berlebihan.masyarakat kembali membersihkan bekas rumah yang telah hancur dan membangun tenda untuk tempat berlindung dari panasnya siang dan sejuknya malam serta dingin dikala diguyur hujanLembaga bantuanpun datang berbondong-bondong u memberikan bantuan makana,minuman dan juga paka
ian.terlalu banyak bantuan yang diberikan membuat masyarakat malas untuk bekerja.contoh buruk yang dilakukan beberapa pemberi bantuan adalah : warga diajak membersihkan kampungnya sendiri kemudian dibayar.wlaupun mereka hanya duduk saja dan mencabut hanya dua dan tiga rumput saja bisa mendapatkan upah.lalu apa yang terjadi dengan masyarakat sekarang ini..!budaya gotong royong yang sangat kental dalam kehidupan masyarakat Aceh pudar hanya dengan sejumlah uang.rasa menghargai satu sama lain juga sudah mulai sangat berkurang.saat bantuan logistik masih disalurkan kepada korban bantuan bantuan rumah pun datang.berbondong-bondong korban yang tinggal dibarak kembali kekampung halaman.mereka mulai kehidupan yang baru di kampung dengan rasa trauma yang masih sangat tinggi.Pembangunan Rumah Bantuan
Pembangunan rumah korban tsunami dimulai pada bulan mai 2005.awa-awal memang tidak terjadi kecurangan di data rumah.tp tidak lama kemudian lambaga bantuan rumah pun bertaburan yang tanpa koordinasi antara sesama dalam hal membagi bantuan terutama bantuan perumahan.akhirnya banyak terjadi tumpang tindih pembangunan dan ini juga disebabkan oleh warga yang pernah puas dengan apa yang diberikan.hampir 15% korban mendapatkan rumah double.Lembaga pemerintah dalam hal ini BRR(Badan rekontruksi dan rehabilitasi)juga lalai menghitung duit.mereka selalu sibuk dengan dikantor padahal dilapangan terjadi perselisihan antara NGO yang seharusnya dibawah koordinasi BRR.pengumuman bagi korban yang mendapatkan rumah double akan diproses ke hukum juga hanya sekedar omong doank.mereka juga mengutuskan orang yang tidak jujur ke lapangan yang dengan semaunya bisa memasukkan data calon penerima bantuan hanya dengan mengharapkan uang tambahan begitu juga yang terjadi dengan beberapa orang kepala desa yang melakukan penipuan data calon penerima bantuan.